IKMAL TURUN GUNUNG MENYUARAKAN HAK RAKYAT

Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam IKMAL-Ikatan Mahasiswa Langkaplancar menuntut keadilan untuk daerahnya yang dianggap masih termarjinalkan dari segi infrastruktur. Untuk menyalurkan aspirasinya mereka melakukan audiensi dengan stakeholder terkait.

Terlihat hadir ditengah forum yang digelar di kantor DPRD itu keterwakilan dari Dinas Perhubungan dan PLN Kab.Pangandaran. namun yang menjadi tanda tanya besar adalah dimanakah anggota dewan setempat yang terhormat selaku tuan rumah pagelaran audiensi.

Dalam tuntutannya, mahasiswa yang dimotori oleh Imam Farid ini menyampaikan beberapa permasalahan yang dianggap mendesak untuk keperluan di Langkaplancar.

Satu menyoal listrik yang sering mati mendadak, yang ujarnya sangat merugikan bagi masyarakat secara langsung selaku konsumen yang memiliki hak sama dengan masyarakat yang lain di sekitar Pemda Pangandaran. Juga secara tidak langsung itu dapat berpengaruh terhadap alat-alat elektronik masyarakat seperti tv, komputer, dan alat-alat yang lain.

Namun sayang, ternyata pihak PLN Pangandaran tidak mampu berbuat banyak, dipintan komitmen untuk menandatangi fakta integritas saja mereka tidak mau, ujar dadan selaku korlap.

Kedua, terkait PJU dilangkaplancar yang bisa disebut sangaatttt langka. Padahal kalau menimbang aspek objektif, kecamatan Langkaplancar adalah kecamatan yang paling memerlukan penerangan.

Kita sedih ketika beberapa waktu lalu ada kecelakaan di desa pangkalan yang disebabkan kurangnya peneranagan, ujar najmi.

Kepala Dishub E. SUARJO berujar untuk tahun 2019 tidak ada anggaran untuk pengajuan PJU  hanya ada anggaran perbaikan sebesar 100 juta, itu pun sudah ketar ketir keadaannya. Lagi-lagi pihak dishub pun tidak berani menandatangi MOU dari IKMAL. Mereka malah melempar masalah ini kepada DPRD komisi 3 yang tidak hadir dan menurutnya tidak mampu memberikan pengaruh yang kuat untuk merealisasikan aspirasi dari dapilnya. Mungkin gara-gara bukan kadisnya langsung yang datang sehingga mereka hanya menyampaikan alasan-alasan yang tidak terlalu strategis. Kembali ujar dadan.

Dan yang terakhir mahasiswa ini menyoal masalah pelindungan hutan yang ada di Langkaplancar. Sering terjadi perusakan bahkan pencurian tapi seolah-olah dibiarkan begitu saja. Namun masalah ini pun tidak melahirkan solusi karena tidak ada satu pun anggota DPRD di ruang DPRD ketika audiensi.

Kita berharap, bupati Pangandaran segera merespon hal ini, karena hal ini bisa dikatakan mendesak untuk Langkaplancar. Jangan hanya pembangunan dibibir pantei yang diprioritaskan, lampu disana berjejer bak lampu taman. Sesekali kita lihat jarak antar lampu cuma 1 meter dari yang lain, sepeti di depan mesjid agung parigi. kami juga masyarakat kab Pangandaran pa, jadilah bupati yang adil, tendas Imam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *